Yaitu, mulai matahari terbit seukuran satu tombak (tujuh hasta atau 2,5 meter) sampai waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat).
Ketentuan Waktu Utama Sholat Dhuha
Waktu Sholat Dhuha sebenarnya adalah mulai matahari terbit seukuran satu tombak sampai waktu zawal.
Namun demikian, ada waktu yang lebih utama, yaitu ketika terik matahari telah terasa panas.
Rumus dalam fiqih menyebut, setelah melewati seperempat siang (dihitung dari awal subuh). Kira-kira mulai sekitar jam 9 pagi.
Imam Muslim meriwayatkan:
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي اللهُ عنه: أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى، فَقَالَ: أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ في غَيْرِ هذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ؟ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ (رواه مسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam radliyallahu ‘anh, sungguh ia pernah melihat segolongan orang melakukan Sholat Dhuha, lalu ia berkata: ‘Tidakkah kalian tahu, bahwa sholat dalam waktu ini lebih utama? Sungguh Rasulullah bersabda: Shalat kaum awwabin (Shalat Dhuha) adalah saat kaki anak-anak unta merasakan panasnya bumi karena terik matahari’, (HR Muslim)
Adapun hikmah Sholat Dhuha pada waktu utama ini adalah agar setiap seperempat siang tidak kosong dari sholat. Seperempat siang pertama ada Shalat Shubuh.
Seperempat siang kedua ada Sholat Dhuha, seperempat siang ketiga ada Sholat Dhuhur, dan seperempat siang keempat Sholat Ashar.
Rakaat dan Bacaan Surat
Sholat Dhuha sunnah dilakukan dengan dua rakaat salam. Batas minimalnya adalah dua rakaat, sedangkan batas maksimalnya adalah 12 rakaat.
